
Semut Kampus - Mimpi sebenarnya adalah ruang yang selalu mendahului kenyataan dan tidak ada satu kenyataan yang terbenruk dalam diri seseorang diluar mimpi-mimpinya. Oleh karena itu adalah penting latihan bermimpi. Jadi, kita hanya membutuhkan pengetahuan tentang diri kita yang sekarang ini. Untuk apa? Untuk mengetahui peta pengembangan yang mungkin bagi diri ini.
Sebutlah
saya sseorang arsitek yang bertemu seorang tuan tanah yang memiliki
tanah 1 hektar. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia ingin membangun
sebuah rumah disini, diatas lahan 1 hektar ini. Tipe rumahnya terserah
kepada saya. Sang tuan tanah hanya menginginkan rumah yang member kesan
asri, teduh, dan tidak megah, tapi apik. Setiap orang yang masuk kesana
akan merasa betah dan enggan untuk keluar. Hanya itu. Jelas, kan? Ya!
Sebagai seorang arsitek saya akan meneliti keadaan tanah itu dengan baik, landscape-nya
seperti apa, lokasinya ada dimana, bagaimana tanah yang ada
disekelilingnya, lingkungannya, cuaca, dan sebagainya. Setelah itu saya
mulai berimajinasi. Rumah itu belum ada, kan? Yang disebut apik, asri,
dan teduh itu tidak ada bentuk nyatanya kan? Tidak ada kan? Kesan apik,
asri dan teduh hanya dapat dirasakan saja! Berarti bentuknya abstrak.
Saya
mulai membayang-bayangkan tentan tipe rumah yang menciptakan keasrian.
Khayalan-khayalan tidak segera terbentuk tapi terkonstruksi. Secara
perlahan dari tidak kelihatan menjadi mulai kelihatan. Pada awal-awalnya
tidak segera terlihat, tapi muncul secara perlahan-lahan dengnan
akhirnya bangunan rumah yang diinginkan tuan tanah itu terbentuk secara
penuh; terbentuk secara penuh dalam pikiran si arsitek. Ia
sebagaimana sebuah janin yang terbentukn secara sempurna pada bulan ke
Sembilan dalam rahim ibunya tapi belum terlihat karena belum keluar.
Berarti disini telah terjadi proses perpindahan dari sesuatu yang
abstrak ke sesuatu yang visual. Akan tetapi visualisasi itu baru ada
dalam pikiran arsitek itu, belum dikeluarkan.
Lalu rumah itu saya gambar dalam master plan,
ini dapat diibaratkan dengan bayi yang baru lahir, wajahnya sudah
kelihatan, tangannya, kakinya dan sebagainya. Itu belum bentuk akhirnya.
Jika master plan ini saya pindahkan kedalam bentuk maket, maka
kita sudah memiliki gambaran yang lebih utuh berbentuk miniature.
Setelah itu barulah kita mulai membangun.
Jika
rumah itu sudah jadi maka itulah saat bayi menjadi dewasa. Tetapi semua
rumah yang sudah jadi, memilki peluang untuk dirombak lagi jika
ternyata tidak sesuai dengan keinginan-keinginan awal kita, atau tatkala
kita, ditengah jala, tidak puas dengan itu.
Jadi lahirnya rumah itu dimulai dari mana? Dari IMAJINASI! Disanalah pertama kali dia tercipta. Begitu pula kenyataan hidup kia tercipta pertama kali dalam imajinasi kita.


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !